Artikel

Legenda dan Sejarah Desa

28 Agustus 2025 13:15:38  Bagus Setiawan  73 Kali Dibaca 

 Setelah kerajaan Bali dengan rajanya Dalem Bedahulu yang bergelar Asta Asura Ratna Bumi Banten ditaklukan oleh Majapahit dibawah Pimpinan Maha Patih Gajahmada maka turunlah Warih Dang Hyang Kepakisan yang bernama Sri Aji Ketut Kresna Kepakisan memegang tampuk kepemimpinan Bali bersemayam di Puri Samprangan. Sri Aji Ketut Kresna Kepakisan menurunkan Tiga Putra yakni :

  • Ida Dalem Agra Samprangan 
  • Ida Dalem Tarukan, dan
  • Ida Dalem Ketut Ngulesir.

Ida Dalem Agra Samprangan menurunkan Dewa Gedong Arta, dan I Dewa Gedong Arta menurunkan I Dewa Kaleran Sakti, Ida Dalem tarukan menurunkan Watek Sekar, Pula Sari, Wanagiri, Bandem, Blayu, Dangin, dan Balangan. Ida Dalem Ketut Ngulesir menurunkan Raja-raja Gelgel, Raja-raja Klungkung dan Raja-raja Sukawati.

Putra Dewa Gedong Arta yang bernama I Dewa Agung Keleran Sakti adalah seorang kesatria yang gemar mengembara mengabdikan dirinya untuk membela rakyat dari tekanan musuh. Pengembaraan Beliau mulai dari Bali Timur sampai Bali Barat seperti Culik, Songan dan akhirnya menetap di Kalianget. Setelah hancurnya kerajaan Kalianget para Putra Sang Prabu tidak betah tinggal di Keraton Kalianget. Maka para putra tersebut mulai meninggalkan bumi Kalianget menyebrangi gunung-gunung, hutan-hutan dan   lain-lain. Setelah sampai di suatu tempat perbukitan di Batungsel/ Batu Madeg, tampaklah hutan di Tanggun Titi, Beraban Desa Jaka Tebel, Tabanan, maka para putra mulai merabas hutan tersebut untuk mendirikan puri bersama pengikutnya. Kehadiran  putra – putra Warih I Dewa Kaleran Sakti Prabu Kalianget ini di dengar oleh Raja Tabanan. Maka untuk memudahkan komunikasi bila sewaktu waktu diperlukan oleh Raja Tabanan, Para Putra tersebut diberikan tempat untuk mendirikan Puri di Manik Selaka, Kerobokan Tabanan. Rupa – rupanya kehadiran Putra Prabu Kalianget kurang mendapat tempat di hati para pendamping Raja Tabanan maka akhirnya Beliau pindah menuju Tegaljadi di wilayah Megwi untuk mendirikan Puri sebagaimana layaknya seorang keturunan raja.

Kehadiran para Putra Ida Dewa Kaleran Prabu di Tegaljadi diketahui oleh Raja Mengwi, beliau sangat senang dan mengharapkan peran serta para Putra Warih Ida Dewa Kaleran Prabu dalam menjaga keutuhan kerajaan Mengwi terutama gangguan dari Blambangan. Mengingat antara Tegal jadi dengan Puri Mengwi dipisahkan oleh jurang maka para putra tersebut dibuatkan Puri di Kukuh Marga bernama “ Puri Tan Wani “ yang berarti sebuah Puri yang sangat ditakuti oleh musuh. Selain mendirikan Puri di Kukuh Marga ada pula yang mendirikan Puri di Kamasan Tabanan. Mengingat akan kekebalan dan kesaktian Warih dari Ida I Dewa Gedong Arta, Raja Mengwi menugaskan untuk menyerang Raja Blambangan yang bernama Mas Wilih Mas Sepuh. I Dewa Kaleran putra Prabu Kalianget berhasil menawan Mas Wilih Mas Sepuh  dan dibawa ke Bali, sesampainya di pantai Seseh kepala Mas Wilih Mas Sepuh dipenggal dipersembahkan kehadapan Raja Mengwi sebagai bukti kemenangan. Melihat kejadian tersebut Raja Mengwi sangat gembira dan Putra Dewa Kaleran Prabhu di beri gelar Dewa Kaleran Pemayun Sakti sesuai dengan nama leluhur beliau yakni Ida Dewa Kaleran Sakti.

Ketika sedang dimabuk kemenangan Raja Mengwi beserta rakyatnya, wilayah Mengwi bagian tenggara yaitu Rangkan Jerem Ketewel diserang wabah muntah berak yang disebarkan oleh seorang Balian Sakti, anak Dukuh Jumpungan dari Desa Tledu Nginyah Batur yang bernama Balian Batur (untuk diketahui batas wilayah Mengwi bagian timur adalah Sungai Petanu). Namun atas perkenaan dan  bantuan Raja Klungkung dibawah pimpinan Ida I Dewa Agung Anom Wirya Sirikan maka Balian Batur dapat dikalahkan dengan senjata Bedil Ki Narantaka dengan pelurunya Ki Selisik sebagai Pusaka Kerajaan Klungkung.

Untuk lebih meyakini bahwa wilayah Mengwi antara Sungai Petanu dan Sungai Ayung memang betul-betul sudah aman karena akan dipersembahkan kehadapan Raja Klungkung sesuai dengan perjanjian Ki Balian Batur, maka sebagai penghormatan dan imbalan atas jasa-jasa Ida I Dewa Kaleran Pemayun Sakti mengalahkan Blambangan, maka Ida I Dewa Kaleran Pemayun Saktilah diberikan kehormatan untuk menjaga dan mengamankan wilayah tersebut begitu pula sebagai penghubung Kerajaan Mengwi dengan Kerajaan Klungkung dan dibuatkan Puri layaknya seorang raja. Sebelum pembangunan Puri terlaksana I Dewa Kaleran Sakti disuruh memilih dimana layaknya Puri dibangun. Akhirnya Dewa Kaleran Pemayun Sakti bertapa di Pura Gunung Rata untuk minta petunjuk Dewata, maka diberikanlah petunjuk berupa sinar menyerupai sinar bulan membujur keselatan dari Pura Gunung, berpedoman sinar tersebut selanjutnya dibangunlah Puri di sebelah barat sungai Wos dengan sebutan Puri Sasi (Dalam bahasa jawi kuno Sasi berarti Bulan) karena adanya pengaruh konsonan dari kata Sasi menjadi Sangsi akhirnya lama kelamaan masyarakat menyebutnya “Puri Sangsi”.

Memenuhi amanat dari Ki Balian Batur serta jasa-jasa baik yang telah diberikan oleh Kerajaan Klungkung, dibawah pemerintahan yang diperintah oleh I Dewa Agung Jambe yang merupakan ayahanda dari I Dewa Agung Anom Wirya dan selanjutnya Raja Mengwi Ki Gusti Agung Made Agung mempersembahkan wilayah Timbul / Sukawati serta membangun Puri untuk Ida Dewa Agung Anom Wirya sebagai simbul dari Ida Dewa Agung Anom Wirya memulai mengendalikan pemerintah Kerajaan Sukawati dengan nama “Puri Gerogak” yang berarti besar dan luas, serta merajan yang disebut “Pemerajan Agung Gerogak”. Dengan berdirinya Kerajaan Sukawati membuat Raja Mengwi merasa bahagia karena hubungan baik Mengwi dengan Klungkung telah terjalin. Demi kelanggengan hubungan Kerajaan Mengwi dengan Kerajaan Sukawati, Raja Mengwi mempersembahkan putrinya Ni gusti Ayu Pancung kepada Raja Klungkung. Demikian pula harapan Raja Klungkung agar hubungan baik Klungkung dan Mengwi tetap terpelihara dan harmonis maka raja Klungkung pun hendak membalas haturan dari Raja Mengwi dengan menghadiahkan seorang putri cantik (adik dari Raja Klungkung) yang bernama Cokorda Istri Kaler kepada Raja Mengwi melalui Raja Sukawati. Raja Sukawati menyampaikan  maksud Rakanda di Klungkung, dengan senang hati Raja Mengwi menerima namun karena Beliau sudah tua maka bermaksud memberikan kepada Putranya. Agar tidak dianggap memihak terhadap salah satu putranya untuk pelaksanaan pemberian putri cantik tersebut dikuasakan kepada Raja Sukawati. Akhirnya beliau Raja Sukawati memutuskan mengundang para Putra Raja Mengwi dengan catatan siapa yang datang duluan berhak mempersunting Cokorda Istri Kaler. Ternyata yang datang lebih awal adalah I Gusti Alangkajeng yang tinggal di Puri Munggu, dengan demikian sesuai dengan keputusan tersebut maka Raja Sukawati merestui I Gusti Alangkajeng mempersunting Cokorda Istri Kaler, Kedua mempelai kembali ke Munggu.

Mendengar berita tentang kecantikan paras Cokorda Istri Kaler yang telah dpersunting oleh I Gusti Alangkajeng, tiba-tiba muncul rasa dendam dan sakit hati terhadap Raja Sukawati yang diangap pilih kasih dan tidak adil, akhirnya timbul niat dari   I Gusti Ratu Panji untuk menyerang Kerajaan Sukawati. Mengingat hubungan baik antara Sukawati dan Mengwi maka Raja Mengwi memerintahkan Para Patih dan rakyatnya untuk tidak membantu I Gusti Ratu Panji agar perselisihan itu dapat dicegah. Akan tetapi I Gusti Ratu Panji tidak dapat dicegah karena dorongan jiwa kesatrianya dan prinsip  “maju tanpa bala”. Untuk itu Raja Mengwi mengambil jalan lain, dimana I Dewa Kaleran Pemayun Sakti di Puri Sangsi diminta menyerang Sukawati agar tidak terang-terangan Mengwi memusuhi Sukawati. Mendengar niat Mengwi seperti itu maka Raja Sukawati segara mengirim utusan ke Puri Sangsi agar I Dewa Kaleran Pemayun Sakti mengurungkan niatnya menyerang Sukawati mengingat antara Sukawati dengan Sangsi akawit tunggal. Oleh karena itu maka timbulah pertimbangan yang sangat berat bagi I Dewa Kaleran Pemayun Sakti di Puri Sangsi. Kalau menyerang Mengwi teringat dengan jasa Raja Mengwi membuatkan Puri Tan Wani waktu tinggal di Kukuh Marga, kalau menyerang Sukawati takut dengan Bhatara Kawitan dan jelas-jelas Dewa Agung Anom I Puri Gerogak Sukawati telah mengakuinya sebagai satu saudara sama-sama darah Dalem. Akhinya diputuskan demi darah Dalem dan berbakti terhadap Bhatara kawitan Ida I Dewa Kaleran Pemayun Sakti Sangsi memihak Sukawati dan melawan Mengwi.

Oleh karena itu betapa marahnya Mengwi terhadap Sangsi, akhirnya Sangsi di serang dibawah pimpinan I Gusti Nyambu. Untuk meyakinkan Raja Sukawati atas kesungguhan Ida Dewa Kaleran Pemayun Sakti Sangsi memang betul-betul memihak kepada Raja Sukawati, maka Ida Dewa Kaleran Pemayun Sakti Sangsi menyerahkan adik beliau yang bernama Ida I Dewa Gede Kompyang ke Raja Sukawati, sebagai jaminan. Ida I Dewa Gede Kompyang inilah yang menurunkan Satrya Dalem Kaleran di Sukawati.Dan Beliau Ida Dalem Sukawati Menugaskan menjadi Pemangku di Pura Nataran Agung Sukawati. Perang antara Sangsi dan Mengwi demikian hebatnya. Perang tanding antara Ida I Dewa Kaleran Pemayun Sakti Sangsi dengan I Gusti Nyambu sebagai pimpinan perang dari Mengwi berlangsung dengan serunya. Atas kesaktian I Dewa Kaleran Pemayun Sakti dan kekuatan pasukan Sangsi, I Gusti Nyambu berhasil ditangkap dan ditawan. Karena kebalnya I Gusti Nyambu beberapa senjata dari besi digunakan oleh Pasukan Sangsi tidak berhasil membunuhnya. Akhirnya I Gusti Nyambu dihaturkan ke Sukawati. Ternyata Raja Sukawati tidak mampu juga membunuhnya. Oleh karena itu tawanan tersebut dikembalikan ke Sangsi. Untuk mengatasi hal itu selanjutanya I Dewa Kaleran Pemayun Sakti Sangsi mengadakan semadi untuk memohon petunjuk kehadapan Tuhan yang Maha Kuasa bagaimana cara membunuh I Gusti Nyambu.

Dewata yang agung berkenan memberikan petunjuk bahwa untuk membunuh I Gusti Nyambu lobang pantatnya harus ditusuk dengan besi Patok Jaran yang telah dipanaskan. Dengan kekuatan patok jaran yang telah dipanaskan pantat I Gusti Nyambu ditusuk. Maka gugurlah I Gusti Nyambu sebagai pahlawan Mengwi. Sewaktu perang tading dengan I Gusti Nyambu tersebut dalam perang dengan menggunakan “Gada”. Ida I Dewa Kaleran Pemayun Sakti Sangsi menang dan sebagai puji syukur beliau kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa maka dibangunlah sebuah pura yang disebut “Pura Ijo Gada”. Tempat memukul-mukul I Gusti Nyambu dengan beberapa senjata besi oleh pasukan Sangsi didirikan pula sebuah Pura sebagai puji syukur beliau kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa yang bernama “Pura Menggar Besi”. Demikian pula tempat beliau membakar besi patok jaran sampai merah pijar untuk membunuh I Gusti Nyambu didirikannya pula Pura yang disebut “Pura Culeg” (Bahasa Bali dari kata Cule/Suled menjadi Culeg)

Dengan kalahnya I Gusti Nyambu. pimpinan perang diambil alih oleh I Gusti Ratu Panji yang ibunya dari Buleleng. Dalam peperangan inipun Ida I Dewa Kaleran Pemayun Sakti Sangsi memperoleh kemenangan yang gemilang. Sebagai perwujudan dewa suksma di tempat memperoleh petunjuk untuk mengalahkan I Gusti Ratu Panji dibangun sebuah Pura yang diberi nama “Pura Panji” dan “Pura Pedekdekan” sewaktu berhasil menghancurkan (Dekdek Bahasa Bali) kemaluan I Gusti Ratu Panji. Sawah tempat berlangsungnya perang antara Mengwi dengan Sangsi disebut “Carik Kalangan”

Dengan kalahnya Mengwi untuk kedua kalinya oleh Ida I Dewa Kaleran Pemayun Sakti maka keamanan wilayah Sukawati semakin mantap dan terkendali.

Seusai perang Sukawati dengan Mengwi yang dipimpin oleh Ida Dewa Kaleran Pemayun Sakti Sangsi maka hubungan Sangsi dengan Sukawati semakin erat. Untuk lebih mempekokoh hubungan ini Raja Sukawati di Puri Gerogak mengawinkan adiknya dengan Ida Dewa Agung Kaleran Pemayun Sakti Sangsi, akan tetapi perkawinan tersebut tidak membuahkan keturunan. Oleh karena itu demi kekalnya tali persaudaraan antara Sangsi dengan Sukawati maka istri Ida Raja Sukawati di Puri Gerogak yang sudah hamil dianugrahkannya kepada Ida Dewa Kaleran Pemayun Sakti Sangsi. Kedatangan Beliau ke Sangsi disertai sujumlah seniman, Undagi, Sangging, dan Pengrajin Lainnya. Berselang beberapa lama lahirlah sorang Putra laki yang buruk parasnya sehingga para panjak Sangsi sangat meragukan kalau-kalau Putra tersebut memnang Putra Dalem Sukawati. Tatkala keragu-raguan itu memuncak diputuskan oleh para Dulu Sangsi untuk mengembalikan Putra tersebut ke Sukawati. Setelah sampai di sekitar tukad Wos di sebelah timur Puri Sangsi, datanglah beberapa pemuka rakyat Sangsi yang menghadang untuk mepertimbangkan lebih matang lagi agar jangan gara-gara pengembalian Putra Beliau hubungan antara Sukawati dengan Sangsi yang telah terjalin cukup lama  dan dibayar dengan tetesan darah sewaktu perang melawan Mengwi menjadi retak. Setelah dipertimbangkan akhirnya diputuskan untuk menunda mengembalikan Putra Beliau ke Sukawati. Hal ini didengar oleh Raja Sukawati, kemudian beliau mengrim utusan ke Puri Sangsi, agar Putranya diuji dengan cara dibakar, apabila Putra Beliau terbakar berarti itu bukan Putra Raja Sukawati, apabila sebaliknya maka putra tersebut adalah Warih Dalem Sukawati.

Dengan demikian Raja Sangsi memerintahkan agar rakyat Sangsi menguji kebenaran Sabdha Dalem Sukawati. Panjak-panjak Sangsi pun datang membawa tempurung kelapa ke Jaba Pura Sangsi. Setelah api berkobar maka Putra Beliau tersebut ditaruh dalam kobaran api. Apa yang terjadi? Keajaiban muncul, dimana kobaran api pelan-pelan padam sedangakan sang Putra sehat dan selamat. Maka barulah Raja Sangsi percaya dan yakin akan kebenaran Sabdha Raja Sukawati dan megakui memang benar Sang Putra Warih Raja Sukawati dan akhirnya Putra tersebut “Diperas Dhi Sekar”,   ( Diperas artinya diangkat sebagai pelanjut karajaan, Dhi Sekar berarti sangat di muliakan). Dengan dmikian berarti putra tersebut diangkat dan dimuliakan sebagai calon Raja. Putra tersebut diberi nama Ida Dewa Agung Api. Ditempat menghalangi untuk mengembalikan putra tersebut ke Puri Sukawati dibangun sebuah Pura yang disebut “ Pura Bale malang” (Bale berasal dari kata Bala yang berarti Panjak, dan Malang yang berarti menghalangi atau mngurungkan). Dibangun pula sebuah Pura disebelah Pura Bale Malang yang disebut “ Pura Satria” yang bermakna bahwa Putra tersebut memeng benar berdarah kesatrya yakni Warih Raja Sukawati. Maksud di bangun ke dua pura tersebut adalah sebagai peringatan dan rasa syukur dan terima kasih kehadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat tuntunan – Nya hubungan antara Sukawati dan Sangsi tetap terjalin baik. Sudah merupakan kehendak Yang Maha Kuasa setelah diangkatnya Ida Dewa Agung Api sebagai calon pelanjut di Puri Sangsi, maka hamillah istri Raja Sangsi yakni adik dari Raja Sukawati dan setelah lahir diberi nama Ida Dewa Kaleran sangsi atau Ida Dewa Agung Tawa (karena berkat anugerah Ida Bhatara di Pura Astawa/Tawa). Setelah kedua putra tersebut sama-sama dewasa mulai menjadi bahan pemikiran bagi Ida Dewa Kaleran Pemayun Sakti. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari dan tetap terjadi hubungan baik serta hormat kepada Raja Sukawati, dan untuk menunjukan rasa sayang kepada Raja Putra yang sama-sama sebagai Warih Sri Aji Ketut Khresna Kepakisan. Dimana Ida Dewa Kaleran Sangsi sebagai Warih Ida Dalem Agra Samprangan dan Dewa Agung Api sebagai Warih Ida Dalem Ketut Ngulesir/Semara Kepakisan, timbullah niat membangun sebuah Puri lagi untuk salah satu dari kedua Putra Raja tersebut. Untuk itu maka beliau memerintahkan panjak-panjak beliau membangun sebuah Puri lagi dengan merabas hutan Jaga Raga di sebelah barat Puri Sangsi. Setelah Puri Sangsi tersebut selesai dengan segala perlengkapan sebagai persemayaman seorang raja maka Puri tersebut diberi nama Puri Jaga Raga. Dan Putra Raja Sukawati yang bernama Dewa Agung Api-lah diagungkan disana sebagai seorang Raja yang ahli membuat Barong yang karyanya hampir di sungsung di seluruh jagad Bali. Ida Dewa Kaleran Sangsi tetap tinggal di Puri Sangsi. Dengan keberadaan dua Raja dalam satu Desa maka disebut Desa “Singapadua”, yang mengandung arti Singa berarti Raja, Pa adalah sebuah awalan yang menunjukan keterangan tempat, dengan demikian Singapadu berarti satu Tempat/Desa dipimpin oleh dua raja yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam berbakti kepada Bhatara Kawitan dan mengayomi desa/masyarakat. Ditinjau dari sudut Morpologi karena adanya pengaruh vokal akhirnya Singapadua menjadi “Singapadu”. Untuk mempertahankan agar hubungan persaudaraan antara Ida Dewa Agung Kaleran Sakti denga Ida Dewa Agung Api di Puri Agung Jaga Raga tetap terjalin erat dan abadi maka di merajan agung Puri Jaga Raga dibangunlah Pajenengan / bangunan suci tempat persembahyangan Warih Ida Dewa Agung Kaleran Sangsi dan dimerajan Agung Sangsi Singapadu juga dibangun sebuah bangunan suci tempat persembahyanagan Warih Ida Dewa Agung Api. Maka semenjak itu di Desa Singapadu terdapat dua raja dan dua puri yang sangat dihormati oleh masyarakatnya, serta mewilayahi masing-masing Desa Pekraman/ adat. Puri Jaga Raga Singapadu mewilayahi Desa Pekraman Adat Kebon sedangkan Puri Sangsi mewilayahi Desa Pekraman Adat Sangsi atau Singapadu.

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
E-mail
Isi Pesan
  CAPTCHA Image  
 

 Menu Kategori

 Aparatur Desa

 Statistik

 Arsip Artikel

10 November 2025 | 29 Kali
KEGIATAN BERSIH PEMERINTAH DESA DENGAN OPD BINAAN
10 November 2025 | 16 Kali
POSYANDU JIWA DESA SINGAPADU
10 November 2025 | 11 Kali
Kegiatan Ketahanan Pangan
20 Oktober 2025 | 22 Kali
POSYANDU REMAJA DESA SINGAPADU
20 Oktober 2025 | 13 Kali
KEGIATAN JUMAT BERSIH
20 Oktober 2025 | 21 Kali
KEGIATAN PELATIHAN PEMASARAN UMKM
13 Oktober 2025 | 16 Kali
BANK SAMPAH UNIT BANJAR MUKTI
10 November 2025 | 29 Kali
KEGIATAN BERSIH PEMERINTAH DESA DENGAN OPD BINAAN
20 Oktober 2025 | 22 Kali
POSYANDU REMAJA DESA SINGAPADU
13 Oktober 2025 | 21 Kali
KEGIATAN JUMAT BERSIH
20 Oktober 2025 | 21 Kali
KEGIATAN PELATIHAN PEMASARAN UMKM
13 Oktober 2025 | 16 Kali
BANK SAMPAH UNIT BANJAR MUKTI
10 November 2025 | 16 Kali
POSYANDU JIWA DESA SINGAPADU
20 Oktober 2025 | 13 Kali
KEGIATAN JUMAT BERSIH
10 November 2025 | 16 Kali
POSYANDU JIWA DESA SINGAPADU
20 Oktober 2025 | 21 Kali
KEGIATAN PELATIHAN PEMASARAN UMKM
20 Oktober 2025 | 22 Kali
POSYANDU REMAJA DESA SINGAPADU
20 Oktober 2025 | 13 Kali
KEGIATAN JUMAT BERSIH
10 November 2025 | 11 Kali
Kegiatan Ketahanan Pangan
13 Oktober 2025 | 16 Kali
BANK SAMPAH UNIT BANJAR MUKTI
13 Oktober 2025 | 21 Kali
KEGIATAN JUMAT BERSIH

 Agenda

Belum ada agenda

 Sinergi Program

 Komentar

 Media Sosial

 Peta Wilayah Desa

 Peta Lokasi Kantor


Kantor Desa
Alamat : Jl. Raya Singapadu, Singapadu, Kec. Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali
Desa : Singapadu
Kecamatan : Sukawati
Kabupaten : Gianyar
Kodepos : 80582
Telepon : 03618402011
Email : desasingapadu@gmail.com

 Statistik Pengunjung

  • Hari ini:35
    Kemarin:0
    Total Pengunjung:1.060
    Sistem Operasi:Unknown Platform
    IP Address:216.73.216.234
    Browser:Mozilla 5.0